Aceh dikenal luas sebagai Serambi Makkah, sebuah sebutan yang lahir dari kuatnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakatnya. Nilai tersebut tidak hanya tampak dalam penerapan syariat, tetapi juga tercermin melalui tradisi-tradisi lokal yang bernuansa religius. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Beut Daroh.
Tradisi Beut Daroh bukan sekadar aktivitas membaca Al-Qur’an, melainkan bagian penting dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Aceh, khususnya selama bulan Ramadan.
Pengertian Beut Daroh
Secara umum, Beut Daroh adalah tradisi membaca Al-Qur’an secara berjamaah yang dilakukan masyarakat Aceh di meunasah (surau), masjid, atau balai pengajian. Kegiatan ini biasanya berlangsung pada malam hari selama bulan Ramadan, dimulai setelah salat tarawih hingga menjelang sahur.
Istilah Beut dalam bahasa Aceh berarti “membaca”, sementara Daroh merujuk pada aktivitas membaca Al-Qur’an secara bersama-sama. Tradisi ini mirip dengan tadarus Al-Qur’an, namun memiliki ciri khas lokal Aceh yang kuat, baik dari segi pelaksanaan maupun nilai sosial yang menyertainya.
Sejarah dan Latar Belakang Tradisi
Tradisi Beut Daroh telah ada sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun. Pada masa lalu, ketika akses pendidikan formal masih terbatas, meunasah menjadi pusat pembelajaran agama dan sosial masyarakat. Di tempat inilah Beut Daroh berkembang sebagai sarana mendalami Al-Qur’an sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Tradisi ini tumbuh seiring dengan kuatnya peran ulama dan tokoh adat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Melalui Beut Daroh, nilai-nilai Islam diajarkan secara kolektif dan berkesinambungan, menjadikannya sebagai media dakwah yang membumi dan mudah diterima oleh semua kalangan.
Proses Pelaksanaan Beut Daroh
1. Waktu dan Tempat
Beut Daroh dilaksanakan hampir setiap malam selama bulan Ramadan. Kegiatan ini berlangsung di meunasah atau masjid desa dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
2. Pembacaan Al-Qur’an
Peserta membaca Al-Qur’an secara bergiliran, baik per ayat maupun per halaman. Tidak ada paksaan target tertentu, karena tujuan utama Beut Daroh adalah kebersamaan dan keberlanjutan membaca Al-Qur’an.
3. Suasana Kebersamaan
Selain membaca Al-Qur’an, Beut Daroh juga menjadi ruang silaturahmi. Di beberapa daerah, warga secara sukarela menyediakan minuman atau makanan ringan untuk jamaah sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong.
Kenduri Khatam Al-Qur’an
Di akhir Ramadan, tradisi Beut Daroh sering ditutup dengan kenduri khatam Al-Qur’an. Acara ini menandai selesainya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah selama satu bulan penuh.
Kenduri biasanya diisi dengan doa bersama dan makan bersama yang melibatkan seluruh warga. Selain sebagai ungkapan syukur, kenduri ini menjadi simbol kuatnya persatuan dan rasa kebersamaan dalam masyarakat Aceh.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tradisi Beut Daroh
1. Nilai Keagamaan
Beut Daroh memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an dan menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan ibadah secara kolektif.
2. Nilai Pendidikan
Tradisi ini menjadi media pendidikan nonformal, khususnya bagi anak-anak dan remaja, untuk belajar membaca Al-Qur’an, memperbaiki tajwid, dan menumbuhkan kebiasaan ibadah sejak dini.
3. Nilai Sosial dan Budaya
Beut Daroh mempererat hubungan sosial antarwarga, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjaga keberlangsungan budaya Islam Aceh di tengah arus modernisasi.
Beut Daroh di Era Modern
Di tengah perkembangan zaman, tradisi Beut Daroh tetap bertahan, meski mengalami penyesuaian. Di wilayah perkotaan, pelaksanaannya lebih teratur dengan pengaturan waktu dan penggunaan pengeras suara yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Meski demikian, esensi Beut Daroh sebagai sarana ibadah, pendidikan, dan penguatan sosial tetap terjaga. Tradisi ini membuktikan bahwa budaya lokal dapat berjalan seiring dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Penutup
Tradisi Beut Daroh merupakan salah satu warisan budaya religius masyarakat Aceh yang memiliki nilai keagamaan, pendidikan, dan sosial yang tinggi. Lebih dari sekadar kegiatan membaca Al-Qur’an, Beut Daroh adalah simbol kebersamaan, kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan kekuatan identitas Islam Aceh.
Melestarikan Beut Daroh berarti menjaga warisan spiritual sekaligus memperkuat karakter generasi masa depan agar tetap berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an dan budaya luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
